SDN Sumer Payung Memprihatinkan, Ketua Rafiq Desak Pemda Wujudkan SPM Pendidikan

oleh -264 Dilihat

Sumbawa Besar, nuansantb.com- Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa Abdul Rafiq merasa prihatin dengan kondisi Sekolah SDN Sumer Payung, Desa Karang Dima, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa.

Guna mewujudkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan, Ketua Rafiq mendorong Pemerintah Daerah untuk segera membangun ruang kelas tambahan di SDN Sumer Payung.

“Saya berharap Pembangunan Ruang Kelas Baru SDN Sumer Payung bisa segera dipercepat. Setiap tahun kita juga mendapatkan alokasi Anggaran untuk Pembangunan Ruang Kelas Baru melalui Dana Alokasi Umum dan SDN Sumer Payung ini termasuk dalam skala Prioritas yang harus mendapat perhatian serius,” ujar Rafiq, kepada media ini, Senin (17/04/2023).

Selain SDN Sumer Payung, Ketua DPC PDU-P Sumbawa ini juga Pemda memperhatikan sekolah-sekolah lain yang kondisinya juga parah sebagaimana.

Sebagaimana laporan saat melakukan reses Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa, masih banyak Sekolah yang butuh perhatian pemerintah.

“Jadi, kami di DPRD Sumbawa mendorong Pemda untuk mencari Anggaran di Pusat, dan tidak hanya mengandalkan PAD sumbawa yang hanya 200 milyar tapi juga Dana Alokasi Khusus Fisik maupun Dana Alokasi Umum APBN, Karena APBD kita agak berat membiayai ribuan item pekerjaan,” tegasnya.

Sekarang tugas Pemerintah Daerah bersama DPRD mengejar anggaran ke pusat secara maksimal sehingga persoalan-persoalan seperti SDN Sumer Payung bisa diselesaikan, pungkasnya.

Sebelumnya, sempat viral diberitakan di Media TV Nasional terkait dengan kondisi dan proses belajar di SDN Sumer Payung, Desa Karang Dimas yang sangat memprihatikan.

Sekolah yang berada di belakang Terminal tipe A summer payung ini diresmikan tahun 2018 lalu jauh dari kata layak dan jalan masuk ke SDN ini pun masih jalan tanah berbatu.

Kemudian disebutkan juga, ada 81 anak terpaksa belajar di ruang kelas apa adanya yang dibagi 3 dengan Sekatan kayu dan lemari. Akibat kondisi ini kegiatan belajar pun terganggu dengan suara dari kelas lainnya.

Selain itu, SD Negeri Sumer Payung merupakan bangunan yang dibangun secara Swadaya oleh masyarakat setempat dan belum memiliki kamar mandi yang layak serta tidak memiliki ruang unit kesehatan.

Adapun proses belajarnya, pagi dipakai oleh murid kelas 1 sampai kelas 3 kemudian jam belajar siang dilanjutkan dengan kelas 4 sampai kelas 6.

Anak-anak berharap sekolah mereka bisa diperluas dan dilengkapi fasilitasnya sehingga mereka bisa belajar dengan baik. (Nuansa)